April 2012 decungkringo laman 2 electricity tower vector

##########

The evaluation of patients with acute ischemic stroke should be performed immediately. The first goal of the diagnostic evaluation is to confirm that the patient’s impairments are due to ischemic stroke and not due to another systemic or neurological illness, especially intracranial haemorrhage. Second, the evaluation helps detemine advisability for acute treatment with thrombolityc agents. Third, diagnostic studies are carried out to screen for acute medical or neurological complication of stroke. Finally, the evaluation provides historical data or other information that can be used to establish the vascular distribution of the stroke and provide clues about likely pathophysiology and etiology. The evaluation of patients with acute ischemic stroke should be performed immediately. CT-Scan remains the most important brain imaging test for distinguishing acute ischemic stroke with haemorrhagic stroke. A clinical cardiovascular examination and a 12-lead ECG should be performed in all stroke patients. Several blood test should be routinely performed to identify systemic conditions that may mimic or cause stroke, or that may influence choices for acute treatment. A wide variety of imaging techniques has been used to assess the status of the large cervicocephalic vessels. oil n gas prices Guidelines for Early Management of Patient With Ischemic Stroke. A Scientific Statement From the Stroke Council of the American Stroke Association, 2003 have provided all of the immediate diagnosis of stroke and evaluation.

Therapi suatu penyakit sangat tergantung dengan diagnosis penyakit tersebut, tidak terkecuali stroke. Therapi stroke juga sangat tergantung dari jenis patologis stroke. Sampai saat ini baku emas ( gold standard) diagnosis stroke ditegakkan dari gejala-gejala klinis. Diagnosis baku emas jenis patologis stroke ditegakkan dengan pemeriksaan CT-Scan (Computerized Tomography Scan) atau dengan MRI (Magnetic Resonance Imaging).

Keberhasilan therapi stroke juga sangat ditentukan keberhasilan therapi penyakit-penyakit yang menyertai stroke, baik sebelum terjadi stroke atau sudah terjadi stroke. Hal ini tentu pula diagnosis penyakit-penyakit yang menyertai stroke harus ditegakkan dengan betul dan benar. Sesuai dengan sifat serangan stroke, yang terjadi sangat akut, memerlukan tindakan therapi yang juga sangat cepat, untuk menghindari cacat permanen akibat stroke, diperlukan pula penegakan diagnosis stroke dengan cepat pula.

Saat ini sudah tersedia 2 publikasi dunia yang dapat dipakai sebagai pegangan yang dapat dipercaya, bagaimana menegakkan diagnosis stroke dan penyakit-penyakit yang menyertainya, yaitu European Stroke Initiative (EUSI), Recommendations 2003 3 dan Guidelines for Early Management of Patient With Ischemic Stroke. A Scientific Statement From the Stroke Council of the American Stroke Association, 2003. 4 Diagnosis stroke

Gejala-gejala klinis stroke yang sering terjadi, yang perlu ditanyakan, adalah (salah satu atau bersama-sama); (1) tiba-tiba perot, kelumpuhan satu sisi anggota gerak, (2) tiba-tiba semutan, gringgingan di muka, satu sisi anggota gerak, (3) tiba-tiba bingung, sulit bicara atau bicaranya sulit dimengerti, (4) tiba-tiba terjadi gangguan penglihatan satu atau ke dua mata, (5) tiba-tiba sulit untuk berjalan, sempoyongan, kehilangan keseimbangan atau koodinasi, (6) tiba-tiba nyeri ke pala yang sangat, tanpa diketahui sebab, dan (7) tiba-tiba terjadi penurunan kesadaran atau tidak sadar (koma).

Untuk membedakan jenis patologis stroke (perdarahan atau iskemik atau infark), dapat dilakukan segera mungkin pemeriksaan CT-Scan kepala (sebagai pemeriksaan baku emas). Apabila pemeriksaan CT-Scan tidak memungkin dengan berbagai alasan, dapat dipakai Algoritma Stroke Gadjah Mada (ASGM) yang telah diuji reliabilitas dan validitasnya (grade I). 5 ASGM terdiri dari 3 variabel, yaitu, nyeri kepala pada waktu saat serangan, penurunan kesadaran pada waktu saat serangan dan refelks Babinski. electricity font generator Apabila ada tiga atau dua variable tersebut, maka jenis patologis stroke adalah stroke perdarahan. Apabila ada ada nyeri kepala atau penurunan kesadaran pada saat serangan, maka jenis patologis stroke adalah stroke perdarahan. Stroke iskemik atau infark, apabila tidak ada ketiga variable tersebut pada saat serangan.

Pemeriksaan CT-Scan adalah mutlak dilakukan apabila akan dilakukan pengobatan dengan pengobata trombolitik (rtPA intravenus). 2 Kalau keadaan memungkinkan dapat dilakukan pemeriksaan MRI. Dengan pemeriksaan MRI dapat dilihat lesi kecil (yang tidak terlihat dengan pemeriksaan CT-Scan) di kortikal, subkortikal, batang otak dan serebelum. Juga dapat terlihat lesi teritori vaskuler dan iskemik akut lebih awal.

Pemeriksaan kardiovaskuler klinis dan pemeriksaan 12-lead ECG harus dikerjakan pada semua penderita stroke. Biasanya dilakukan selama 48 jam sejak kejadian stroke. online electricity bill payment Kelainan jantung sering terjadi pada penderita stroke dan penderita dengan kondisi gangguan jantung akut harus segera ditanggulangi. Sebagai contoh penderita infark miokard akut dapat menyebabkan stroke, sebaliknya stroke dapat pula menyebabkan infark miokard akut. Sebagai tambahan, aritmia kordis dapat terjadi pada penderita-penderita stroke iskemik akut. Fibrilasi atrial, sangat potensial untuk terjadi stroke, dapat terdeteksi awal. Monitor jantung sering dilakukan setelah terjadi stroke untuk menapis aritmia jantung serius.

Beberapa pemeriksaan rutin darah dikerjakan untuk mengindetifikasi kelainan sistemik yang dapat menyebabkan terjadi stroke atau untuk melakukan pengobatan spesifik pada stroke. Pemeriksaan tersebut adalah kadar gula darah, elektrolit, haemoglobin, angka eritosit, angka leukosit, KED, angka platelet, waktu protrombin, activated partial thrombopalstin time, fungsi hepar dan fungsi ginjal. Pemeriksaan analisis gas darah dilakukan apabila dicurigai ada hipoksia. Pemeriksaan cairan otak dilakukan apabila dicurigai stroke perdarahan subarakhnoid dan pada pemeriksaan CT-Scan tidak terlihat ada perdarahan subarakhnoid. Pada penderita tertentu dilakukan pemeriksaan tambahan, sbagai berikut; protein C, cardiolipin antibodies, homocystein dan vasculitis-screening (ANA, lupus AC).

Doppler-and duplexsonography of extracranial and intracranial arteries digunakan untuk mengidentifikasi oklusi atau stenosis arteria. static electricity definition physics Juga dipakai untuk monitor efek pengobatan thrombolitik dan dapat menolong menentukan prognosis. Kalau memungkinkan dapat juga dilakukan pemeriksaan magnetic resonance angiography dan CT angiography untuk memeriksa oklusi atau stenosis arteria. Untuk memonitor kardioemboli dilakukan pemeriksaan transthoracic and transoesophageal echocardiography. Biasanya dilakukan setelah 24 jam serangan stroke.

Oleh karena stroke dengan sifat serangannya sangat akut, dapat menyebabkan cacat permanen atau kematian, diperlukan therapi dengan cepat dan tepat. Untuk itu, perlu ditegakkan diagnosis stroke dan jenis patologis stroke dengan cepat dan tepat pula. Diagnosis stroke dapat ditegakkan dengan gejala-gejala klinis yang khas dengan gangguan neurolis, sesuai dengan letak lesi, jenis patologis stroke. CT-Scan dan MRI adalah tes diagnosis baku emas untuk menentukan jenis patologis stroke. gas up shawty ASGM (Algoritma Stroke Gadjah Mada) dapat dipakai dengan reliabilitas dan valididtas tinggi untuk membedakan stroke iskemik akut dengan stroke perdarahan. Pemeriksaan – pemeriksaan lain yang ada hubungannya dengan stroke sangat direkomendasikan oleh

Dilihat dari angka keikutsertaan wanita dalam bidang olahraga terutama basket dan ski salju, ternyata wanita memiliki resiko cidera pada ligament crusiatum anterior lebih tinggi. Hal ini ada hubungannya dengan variasi anatomi pada intercondylar bagian distal femur, ukuran ligament, kekuatan otot, peningkatan kelemahan sendi, kendali neuromuscular, pola aktivasi yang berbeda dan pengaruh hormonal. (David s. Menche, 1999). Bellabarba et al, menyatakan bahwa sekitar 41 – 81% cidera ligament crusiatum kondisi akut, dan 58 – 100% kondisi kronis.

70% ligament crusiatum anterior mengalami cidera melalui mechanism noncontact berdasarkan pengalaman pasien mengenai cidera ini ketika mencoba merubah arah gerakan. Hal ini melibatkan turunnya kecepatan, penggabungan dengan sebuah cutting (perpotongan), pivoting (berputar) dan sidestepping maneuver tetapi pada kasus lain dapat terjadi melalui kontak langsung dan sering dihubungkan debgan cidera pada ligament yang lain.

Tidak banyak pasien yang mengalami kondisi ligament crusiatum anterior kronis, tetapi biasanya pasien yang datang akan mengeluh dan merasakan sakit pada daerah lutut. Kondisi kronik terjadi karena pasien tidak langsung memeriksakan diri ke dokter setelah terjadi cidera, sehingga setelah melihat hasil diagnosa kondisi ligament crusiatum anterior sudah menjadi kronis.

Cidera ini mengakibatkan kinematika sendi knee menjadi abnormal, para penulis / peneliti mengemukakan 15% cidera pada ligament crusiatum anterior akan mengalami total replacement pada lutut. Tetapi timbulya hal ini sedikitnya tiga kali terjadi truma pada ligament crusiatum anterior. Pada kasus yang lebih berat osteoarthritis dapat menyertainya. (appley)

Bursitis Subdeltoid merupakan salah satu penyebab keluhan sehubungan dengan bahu yang paling sering terjadi. electricity basics Bagaimana bursitis terjadi tidak selalu jelas kadang – kadang keluhan didahului oleh suatu trauma. Menurut Snook (1979), studi kasus 71 wanita pesenam melaporkan 66 mayoritas menderita sakit bahu yang mana 45 diantaranya disebabkan trauma dan 21 pengulangan. Flower (1983) dan Richarson (1980) menyatakan insiden nyeri pada bahu tertinggi sekitar 50%.

Sendi bahu dibentuk oleh kepala tutang humerus dan mangkok sendi, disebut cavitas glenoidalis. Sendi ini menghasilkan gerakan fungsional sehari-hari seperti menyisir, meng-garuk kepala, mengambil dompet dan sebagainya atas kerja sama yang harmonis dan simultan dengan sendi-sendi lainnya. Cavitas glenoidalis sebagai mangkok sendi bentuknya agak cekung tempat melekatnya kepala tulang humerus dengan diameter cavitas glenoidalis yang pendek kira-kira hanya mencakup sepertiga bagian dan kepala tulang sendinya yang agak besar, keadaan ini otomatis membuat sendi tersebut tidak stabil namun paling luas gerakannya .( Djohan Aras,1994)

(lapisan bagian dalam) dengan karakteristik mempunyai jaringan fibrokolagen agak lunak dan tidak memiliki saraf reseptor dan pembuluh darah. Fungsinya menghasilkan cairan sinovial sendi dan sebagai transformator makanan ke tulang rawan sendi. Bila ada gangguan pada sendi yang ringan saja, maka yang pertama kali mengalami gangguan fungsi adalah kapsul sino-vial, tetapi karena kapsul tersebut tidak memiliki reseptor nyeri, maka kita tidak merasa nyeri apabila ada gangguan, misalnya pada artrosis sendi.

Lokasi bursa dekat dengan permukaan kulit, hal ini dapat berpotensi bursa terinfeksi oleh bakteri. Salah satu tipe bakteri yang dapat menyerang pada bursa ialah: Staphylococcus aureus atau Staphylococcus epidermis. Orang yang mengidap penyakit Diabetes, atau Peminum alkohol, atau penderita penyakit gagal ginjal atau orang yang mengalami trauma berat dapat berpotensi terkena bursitis. Sekitar 80% bursitis biasanya dialami oleh laki-laki. ( Bill Harrison, MD,2000)

Lokasi nyeri yang dirasakan adalah pada lengan atas atau tepatnya pada insersio otot deltoideus di tuberositas deltoidea humeri. extra strength gas x while pregnant Nyeri ini merupakan nyeri rujukan dari bursitis sub kromialis yang khas sekali. Ini dapat dibuktikan dengan penekanan pada tuberkulum humeri. Tidak adanya nyeri tekan di situ berarti nyeri rujukan. Bursa subdeltoideus merupakan lapisan sebelah dalam dari otot deltoideus dan akronim, serta lapisan bagian luar dari otot “ rotator cuff”. Bursa ini sedikit cairan. Gerakan abduksi dan fleksi lengan atas akan menyebabkan dua lapisan dinding bursa tersebut saling bergesekan. Suatu peradangan pada tendon juga akan menyebabkan peradangan pada bursa. ( Heru Purbo K ,2001)

Dalam keadaan normal saat terjadi gerakan abduksi lengan, tendo- tendo rotator cuff, terutama supraspinatus, lewat di bawah arcus coracoacromialis. Karena arcus tersebut sempit dan rendah letaknya, atau ada abnormalitas/pembengkakan pada tendon akan dapat menimbulkan rasa nyeri saat dilakukan gerakan abduksi, karena pada saat gerakan abduksi itu tuberositas majus humeri akan berkontak dengan acromion, sehingga bursa tertekan.

Rasa nyeri pada umumnya mulai timbul bila lengan mendekati abduksi 90 0 dari tubuh (45 0 – 125 0). Tetapi bila lengan dielevasikan lebih lanjut, karena bursa tidak lagi tertekan, maka rasa nyeri akan hilang, keadaan ini dikenal sebagai ARCUS PAIN. Rasa nyeri dirasakan pada insertio musculus deltoideus pada tuberositas majus humeri, tetapi rasa nyeri di sini bersifat “ reffered pain/nyeri rujukan”, karena pada penekanan pada daerah tersebut tidak membangkitkan rasa nyeri. ( Prasetya Hudaya, 2002).